SiteSulut.com-Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud kembali menggelar ritual adat tahunan yang penuh pesona, Festival Mane’e 2026.

Acara yang sarat akan nilai budaya ini dipusatkan di Pulau Intata, Desa Kakorotan, Kecamatan Nanusa, Rabu (20/5)/2026).

​Wakil Bupati Talaud, Anisya Bambungan, hadir langsung dalam ritual sakral ini untuk mewakili Bupati Kepulauan Talaud, Welly Titah.

Dalam sambutannya, Anisya menegaskan bahwa Festival Mane’e bukan sekadar ritual menangkap ikan tradisional, melainkan sebuah simbol filosofi hidup masyarakat Talaud yang telah mengakar sejak zaman leluhur.

“Festival Mane’e mengajarkan kita tentang kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, dan keharmonisan dengan alam. Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan masyarakat Talaud dari dulu hingga saat ini,” ujar Anisya Bambungan.

​Tahun ini, Festival Mane’e mengusung tema yang sarat akan visi masa depan: “Merajut Janur, Melestarikan Warisan Leluhur Untuk Mewujudkan Wisata Bahari Yang Representatif Di Bibir Pasifik Utara Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Tema ini bukan tanpa alasan. Berada di wilayah perbatasan paling utara NKRI, Talaud memiliki potensi wisata bahari yang luar biasa.

Melalui tradisi merajut janur (samis) yang digunakan untuk menggiring ikan dalam ritual Mane’e, Pemkab Talaud ingin menyuarakan semangat menjaga alam sekaligus mempromosikan pariwisata daerah ke kancah internasional.

“Kita percaya, Festival Mane’e memiliki daya tarik yang besar dan akan terus menjadi kebanggaan masyarakat Kepulauan Talaud. Ini adalah semangat bersama untuk menjaga budaya sekaligus memperkenalkan keindahan Talaud kepada dunia,” lanjutnya.

​Keberhasilan dan kelestarian ritual adat ini tentu tidak lepas dari peran aktif masyarakat lokal yang konsisten menjaga hukum adat (Eha) demi kelestarian ekosistem laut.
​Secara khusus, Wakil Bupati menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat.
• ​Tokoh Adat: Sebagai garda terdepan pelestari ritual sakral.
• ​Panitia Pelaksana: Yang menyukseskan jalannya festival secara representatif.
• ​Masyarakat Desa Kakorotan: Yang terus menjaga dan melaksanakan tradisi Mane’e dengan penuh kecintaan serta kebanggaan.

Festival Mane’e 2026 di Pulau Intata ini kembali membuktikan bahwa di ujung utara Indonesia, keharmonisan antara manusia, adat, dan alam masih terjaga dengan sangat indah.(vil)