SiteSulut.com – Gelombang massa pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja (FSP) PPMI SPSI Sulawesi Utara bersama Koalisi Bersama Pekerja Buruh Indonesia (KBPBI) menggelar aksi unjuk rasa, di Kantor DPRD Sulawesi Utara, Kamis (10/9).
Dengan menggemakan seruan “Buruh Bersatu Rakyat Kuat!”, ribuan buruh memadati halaman gedung wakil rakyat demi mengawal pengesahan RUU Pelindungan Ketenagakerjaan yang dinilai amat mendesak.
Aksi ini digelar sebagai bentuk konsolidasi terbuka demi menjamin kepastian hak dan kesejahteraan para pekerja, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Dalam aksinya, massa melayangkan enam tuntutan utama buruh Sulawesi Utara:
• Jaminan Kerja yang Layak: Menuntut kepastian status kerja serta menolak keras praktik kerja rentan dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak.
• Jaminan Kesehatan: Meminta jaminan akses pelayanan kesehatan komprehensif bagi seluruh pekerja beserta anggotanya.
• Upah yang Adil: Mendorong penyesuaian standar Upah Minimum Provinsi (UMP) yang selaras dengan kenaikan biaya hidup realistis.
• Perlindungan Buruh: Kepastian perlindungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta jaminan hukum atas hak-hak pekerja.
• Kesejahteraan Keluarga: Kebijakan pro-buruh yang mendukung ketahanan sosial dan ekonomi keluarga pekerja.
• Hukum yang Berkeadilan: Penegakan hukum ketenagakerjaan yang tegas, jujur, dan tidak berpihak pada pemilik modal semata.
Aksi berlangsung dinamis di bawah pengawalan ketat aparat keamanan. Pimpinan serikat membakar semangat massa menggunakan alat peraga banner dan pengeras suara, mendesak DPRD Sulut segera membawa rekomendasi resmi ini ke pembentuk undang-undang di tingkat pusat.
Ketua KSPSI-AGN PPMI Sulawesi Utara, Tommy Sampelan, memberikan apresiasi mendalam atas sikap responsif pimpinan dan anggota DPRD Sulut yang menemui massa serta mau menandatangani berkas aspirasi.
”Ini adalah kebangkitan demokrasi kita. Gedung ini dihuni para wakil rakyat yang tidak menutup pintu terhadap suara rakyat. Justru di sini kita melihat respons cepat dan tulus ketika para buruh menyampaikan aspirasi,” ujar Tommy.
Ia menegaskan, pergerakan dari Bumi Nyiur Melambai ini merupakan representasi keresahan seluruh pekerja di Tanah Air. “Kita melangkah dari Sulut, namun hari ini seluruh Indonesia bergerak. Keresahan yang kami sampaikan adalah keresahan bersama di seluruh negeri,” tegasnya.
Tak hanya menuntut regulasi, Tommy juga menyemprot praktik culas segelintir pengusaha nakal yang diduga membangkang dari aturan hingga adanya dugaan permainan dengan oknum dinas terkait.
”Kami tidak akan berdiam diri. Jika perlu, kami akan buka seluruh fakta ini melalui media agar ada efek jera. Pemerintah harus berani menegakkan hukum. Tidak boleh ada kompromi atas hal yang merugikan nasib ribuan pekerja dan buruh!” pungkasnya.(vil)

Tinggalkan Balasan