SiteSulut.com – Sebanyak 304 calon bertarung memperebutkan kursi kepemimpinan dalam Pemilihan Kapitalaung (Kepala Desa) serentak di 117 kampung se-Kabupaten Kepulauan Sangihe, Rabu (21/10).

Antusiasme warga memuncak, tak terkecuali di pulau-pulau terluar seperti Mahengetang dan Para 1.
Ratusan warga mendatangi Tempat Pemungutan Suara (TPS) sejak pagi hari demi memberikan suara pada Pemilihan Kepala Desa atau yang akrab disapa Pemilihan Kapitalaung secara serentak.

Pesta demokrasi tingkat kampung ini digelar di 117 kampung yang tersebar di 12 kecamatan.
Dari pantauan di lapangan, antusiasme masyarakat begitu terasa. Warga dari berbagai kalangan mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, hingga para lansia tampak berbondong-bondong mengantre secara tertib di TPS yang didirikan di halaman kantor desa hingga balai kampung.

Semangat berdemokrasi ini juga terpancar kuat di wilayah kepulauan luar, seperti di Kampung Mahengetang dan Kampung Para 1.
Meski berada di wilayah pesisir dan terluar, proses pemungutan suara berlangsung aman, tertib, dan penuh kekeluargaan.

Di Kampung Mahengetang, pertarungan sengit akhirnya dimenangkan oleh Devid Every Lahope. Devid berhasil mengumpulkan 219 suara, mengungguli pesaingnya, Sirman Peliwuhang, yang memperoleh 139 suara.

Ketua Panitia Penyelenggara Pemilihan Kapitalaung Kampung Mahengetang, Hanstel Koloboba, mengapresiasi tinggi tingginya partisipasi dan kedewasaan berdemokrasi seluruh warga masyarakat Mahengetang selama proses pemungutan hingga penghitungan suara.
“Seluruh tahapan pelaksanaan Pemilihan Kapitalaung di Kampung Mahengetang berjalan dengan lancar, aman, dan kondusif. Kami sangat berterima kasih atas dukungan serta partisipasi aktif seluruh masyarakat yang telah menyalurkan hak pilihnya secara tertib. Kemenangan ini adalah kemenangan seluruh warga Mahengetang, dan kami berharap Kapitalaung terpilih dapat merangkul semua pihak untuk membangun kampung kita bersama-sama,” ujar Hanstel Koloboba usai penghitungan suara.

Sementara itu, dinamika serupa juga terjadi di Kampung Para 1. Yesprin Pontoh resmi keluar sebagai pemenang dalam kontestasi Pilkades tersebut setelah berhasil mengamankan dukungan mayoritas dari warga setempat.
Penyelenggaraan Pilkades serentak ini diharapkan dapat melahirkan pemimpin-pemimpin kampung yang amanah, transparan, serta mampu membawa perubahan positif dan kesejahteraan bagi masyarakat di Bumi Tampungang Lawo.

Kemudian hasil dari penyelenggaraan Pemilihan Kapitalaung ini, ditandatangani oleh seluruh calon yang ada, dan seluruh panitia kemudian dibawah ke Kecamatan sebagai laporan hasil, terus lanjut ke Kabupaten, melalui Dinas yang terkait, dalam hal ini Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah.

Kampung Mahengetang, adalah Kampung yang berada di wilayah Provinsi Sulawesi Utara, Kabupaten Kepulauan Sangihe,Kecamatan Tatoareng, Kecamatan Tatoareng, adalah salah satu Kecamatan, yang paling selatan, dari lima belas Kecamatan yang menjadi wilayah administratif, Kabupaten Kepulauan Sangihe, karena secara langsung berbatasan dengan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (SITARO), dengan akumulasi jumlah penduduknya, kurang lebih 5.495. jiwa, sebagai acuan gambaran data BPS, Kab. kepl. Sangihe.

Sebaran Penduduk per Kampung, dari tujuh Kampung yang melekat di Kecamatan Tatoareng, terbanyak/terbesar adalah Kampung Kalama sekitar,1.112.,jiwa,sedangkan sebaran jumlah penduduk paling sedikit adalah Kampung Taleko-Batusaiki, 575 jiwa.

Kampung Mahengetang, berdiri Pada tahun 1789, oleh dua orang sahabat sejati bernama Bahaningbulo dan Lahope.
Konon dulu Kampung Mahengetang, tidak berpenghuni, namun hanya sebagai tempat atau habitat Burung Meleo dan Ketan Kenari Berkembang biak, dan Hutan Rimbah tak berpenghuni,

kemudian masuklah seorang berperawakan tinggi dan berbadan kekar bernama Bahaningbulo,membuka lahan disana dan di bantu oleh seorang temanya bernama Lahope., pada masa itu, Pulau ini dijuluki Nusa Natutung, dengan arti (Pulau Tandus), kemudian dijuluki Pulau Ringgit, Kono karena (ada banyak Uang Logam yang di hamburkan oleh Orang jepang pada saat itu,di Pantai dan daratan pulau ini)

Kemudian dijuluki Mehengetang yang artinya (Bersabda), atau Berfirman lalu dijuluki, Tae Pongole, merujuk pada bentukan daratan Pulau ini tidak memiliki jasirah dan hol sehingga kesanya bentukan pulau ini bulat daratannya dan Familiar sampai dengan jaman sekarang.
Secara topografi Kampung uMahengetang ini merupakan pulau Vulkanis kecil dengan Luas daratannya, kurang lebih hanya empat kilometer persegi.
Kampung Mahengetang secara geografis, berbatasan langsung dengan: Bagian Utara, Pulau Kalama, dengan jarak tempuh 9 mil laut, dari Pulau Mahengetang.

Bagian Selatan Pulau Para 1. dengan jarak tempuh 7 mil laut , Bagian Timur, berbatas langsung dengan Pulau Taleko-Batusaiki., dengan jarak tempuh 4 mil laut. Bagian Barat, Laut Sulawesi.
Kampung Mahengetang, terbagi atas, tiga Dusun/Lendongan sebagai berikut: Lindongan satu (Soa)., Lindongan dua (Ngihade),Lindongan tiga (Enematiang).
Disamping wilayah perairan Barat Daya, kampung ini memiliki keunikan yang sangat terkenal, di Indonesia, bahkan di dunia global, sebagai spot wisata bahari, di karenakan, memiliki Gunung Api Bawa Laut yang aktif bernama, BANUA-WUHU.
Ketinggian Gunung ini, menjulang sekitar 400 meter dari dasar laut dengan puncaknya berada di kedalaman sekitar 2 meter di bawah permukaan air. Perairanya di hiasi gelembung gas (bebble Vents), air hangat, dan batuan Vulkanis, tertutup sulfur, hamparan trumbuk karang yang lestari nan indah.
Catatan Sejarah dari para leluhur, terkait dengan adanya aktivitas Gunung Api Bawa Laut Banua Wuhu, mencatat bahwa ada beberapakali, erupsi.
Pada tahun 1966 serta tahun 1987., Gunung Api Bawa Laut, Banua Wuhu ini, pernah erupsi, faktanya, ada banyak bebatuan laut, seperti Karang, besar terhampar di perkebunan masyarakat dan pantai soa dusun Satu, menghasilkan banyak Batu Apung, seluruh daratan Kampung Mahengetang struktur tanahnya, dari kulit tanah dan bagian terdalam dari struktur tanahnya, semuanya batu apung, berdasarkan data, ada banyak penduduk Mahengetang berevakuasi secara mandiri ke Baroko Bolmong Sulut, sampai dengan sekarang mereka sudah tidak kembali lagi dan menetap di sana, dan menceritakan peristiwa yang dimaksud.
Aktifitas Wisata, Perairan Mahengetang,
dan Banua Wuhu, menjadi Spot favorit wisata, bagi penyelam (diving), dan spot Bahari karena kejernihan air, taman karang, eksotis, serta pengalaman menyelami kaldera gunung Api aktif.

Tinggalkan Balasan