SiteSulut.com — Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara, menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
Sepanjang periode pengamatan, gunung api setinggi 1.784 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini tercatat mengalami rentetan erupsi eksplosif kecil serta ratusan kali guguran lava pijar yang meluncur ke berbagai arah aliran sungai.
Berdasarkan laporan resmi dari Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Karangetang, Dewa Putu Pastika, yang merujuk pada data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi KESDM, aktivitas tersebut terjadi pada Senin, 26 Oktober 2026.
Secara visual, gunung terpantau jelas hingga tertutup kabut tipis (0-II). Asap kawah utama teramati bertekanan kuat dengan warna putih hingga kelabu, berintensitas tebal, serta membubung tinggi antara 800 hingga 1.000 meter di atas puncak kawah.
Sepanjang periode 24 jam tersebut, tercatat 4 kali erupsi eksplosif kecil yang memuntahkan material pijar dengan tinggi lontaran sekitar 200 hingga 400 meter. Jangkauan lontaran material ini sejauh 200 hingga 700 meter ke arah selatan, barat daya, barat, dan barat laut dari puncak kawah utara. Kolom asap erupsi tersebut tampak condong ke arah tenggara, barat daya, barat, dan barat laut.
Selain letusan eksplosif, aktivitas efusif juga mendominasi berupa guguran lava pijar. Luncuran lava dengan jarak sekitar 700 meter mengalir ke arah pelana kawah utama dan kawah dua, lalu berbelok ke arah barat daya dan barat sejauh 100 hingga 200 meter.
Lava pijar juga terpantau meluncur ke arah barat laut (meliputi Kali Batuare, Kali Batukole, dan Kali Malbuhe), serta ke arah barat dan barat daya (meliputi Kali Hiung, Kali Sumpihi, Kali Kinali, Kali Pangi, dan Kali Kiawang) dengan jarak luncur mencapai 700 hingga 1.000 meter.
Suara gemuruh dan dentuman keras pun dilaporkan terdengar jelas hingga ke Pos Pengamatan Gunung Api.
Data kegempaan yang terekam menunjukkan aktivitas internal gunung yang masih sangat aktif, meliputi:
• Letusan: 4 kejadian (Amplitudo 50 mm, durasi 67-210 detik)
• Guguran: 116 kejadian (Amplitudo 1-22 mm, durasi 17-162 detik)
• Hembusan: 140 kejadian (Amplitudo 5-50 mm, durasi 16-130 detik)
• Tremor Non-Harmonik: 68 kejadian (Amplitudo 3-50 mm, durasi 28-222 detik)
• Tremor Harmonik: 33 kejadian (Amplitudo 3-50 mm, durasi 30-219 detik)
• Vulkanik Dangkal: 8 kejadian (Amplitudo 2-15 mm, durasi 4-13 detik)
• Vulkanik Dalam: 5 kejadian (Amplitudo 7-50 mm, durasi 7-22 detik)
• Tektonik Jauh: 1 kejadian (Amplitudo 15 mm, durasi 54 detik)
Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Karangetang masih berada di Level II (Waspada). Sehubungan dengan kondisi tersebut, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat, pengunjung, maupun wisatawan:
1. Zona Merah: Masyarakat dan wisatawan dilarang keras mendekati, melakukan pendakian, atau beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya, yakni dalam radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (Selatan), serta area perluasan sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 km.
2. Potensi Guguran Susulan: Warga diminta mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu akibat penumpukan material lava sebelumnya yang kondisinya masih belum stabil dan mudah runtuh, terutama di sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya.
3. Ancaman Lahar Hujan: Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke kawasan pantai.

Tinggalkan Balasan