SiteSulut.com— Ancaman terputusnya akses komunikasi di wilayah perbatasan Indonesia menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-81 menjadi sorotan tajam.
Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait keandalan jaringan internet dan komunikasi di kawasan Nusa Utara (Sangihe, Sitaro, Talaud).
Hal tersebut ditegaskannya saat menghadiri Sosialisasi dan Koordinasi Perbaikan Palapa Ring Tengah yang berlangsung di Swiss-Belhotel Manado, Selasa (28/7/2026).
Michael yang dikenal vocal dan tegas menyoroti pemeliharaan kabel laut di jalur Morotai-Talaud yang dinilai sangat rentan karena melintasi wilayah aktif gempa (ring of fire).
Menurutnya, dalam kurun waktu dua bulan saja, kawasan tersebut dihantam lebih dari 200 kali gempa bumi berskala di atas 5 Skala Richter.
“Pertimbangannya apa? Apakah tidak lebih baik memperbaiki titik yang kurang gempa seperti MOS (Manado-Ondong Siau) dari pada memperbaiki titik Morotai-Talaud? Kenapa MOS bukan menjadi pilihan untuk diperbaiki?” ujar Michael.
Ia mengungkapkan, persoalan jaringan MOS ini sejatinya telah berlarut-larut tanpa penyelesaian tuntas sejak satu dekade lalu.
”Masalah MOS ini sudah terjadi sejak 2016 dan sejak itu sudah kita dorong terus untuk perbaikan, sudah sekitar 10 tahun. Penyelesaiannya perlu buat surat bersama tiga bupati ke Kementerian Kominfo dan Kementerian Keuangan agar pembiayaan segera dilakukan,” tegasnya.
Selama kurun waktu pemeliharaan jaringan yang diperkirakan memakan waktu hingga 10 hari, kapasitas sisa jaringan diprediksi hanya bertahan di angka 22,8 persen.
Michael meminta pihak penyedia dan pemangku kepentingan menjamin agar sisa kapasitas tersebut tidak menurun lagi.
”Pastikan kami tetap bisa baku WA meskipun cuma teks, tetap bisa menelpon dan SMS pada kondisi-kondisi seperti ini,” pintanya.
Tak hanya itu, Michael juga mendesak pihak pengelola untuk memberikan bantuan konkret berupa perangkat internet satelit Starlink yang dapat disebar di titik-titik vital pelayanan publik.
“Tiap kabupaten kasih 10 atau 20 titik Starlink yang baru, terserah pemerintah daerah mau pasang di mana. Sehingga kami ada sesuatu yang bisa dibawa untuk masyarakat setelah rapat ini, jangan cuma bawa informasi ‘oh setelah rapat jaringan putus’. Kalau cuma itu, guna rapat ini apa?” cetusnya.
Lanjut Thungari, kondisi gangguan jaringan ini kian diperparah dengan krisis energi listrik yang saat ini melanda kawasan perbatasan akibat pemadaman bergilir.
Michael khawatir kombinasi antara padamnya listrik dan terputusnya sinyal akan memicu potensi kerawanan sosial dan politik jelang perayaan Kemerdekaan RI.
”Bapak dan Ibu belum pernah rasa tinggal di Sangihe dan Talaud. Kita sementara berjuang dengan listrik, pemadaman bergilir luar biasa. Jadi Starlink pun kadang-kadang tidak ada gunanya buat kami,” ungkapnya.
”Kita akan menghadapi masa-masa gelap dalam sejarah ini. Sebelum 17 Agustus, bahkan kaget bisa lewat 17 Agustus, tiga pulau perbatasan mungkin tidak akan menikmati kemerdekaan. Ini kuncinya ada di Bapak, Ibu, dan kita semua,” pungkasnya.(vil)

Tinggalkan Balasan