SiteSulut.com — Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang menerpa Kabupaten Kepulauan Sangihe memantik empati dari berbagai kalangan mahasiswa di Sulawesi Utara.

Menggandeng sejumlah organisasi mahasiswa internal dan eksternal Kampus Ungu Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, GMKI Cabang Manado Komisariat Solafide turun ke jalan hingga membawa bantuan langsung ke titik lokasi terdampak.

​Aksi kemanusiaan ini dimotori oleh Tim Relawan Bencana GMKI Komisariat Solafide bersama Rukun Taroda Wanua’u, HIMAPRO Teologi, BEM Fakultas Teologi, BEM Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen (FIPK), serta BEM Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan (FSISK).

​Rangkaian aksi dimulai dengan penggalangan dana di kawasan Pom Bensin Sario, Kota Manado, pada Rabu (16/9/2026).

Penggalangan dana ini ditujukan untuk membantu masyarakat serta tim relawan lokal yang terus berjibaku memadamkan titik api di Kabupaten Kepulauan Sangihe, khususnya di Desa Mala, Kecamatan Tabukan Utara.

​Tak butuh waktu lama, seluruh bantuan berupa dana dan kebutuhan logistik yang terhimpun langsung diberangkatkan dan disalurkan ke Desa Mala,  Jumat (18/9/2026).

Ketua GMKI Komisariat Solafide, Rhama Losoh, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh warga Kota Manado serta para pihak yang turut memfasilitasi keberangkatan tim relawan.

“Selaku Ketua Komisariat Solafide, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang melintas di lokasi aksi dan telah memberikan sumbangsih bantuan dana. Kami juga menyampaikan apresiasi kepada PT SPI serta seluruh pihak KM Barcelona III yang telah memfasilitasi tiket secara gratis bagi tim untuk mengantarkan bantuan ke Sangihe,” ujar Rhama.

Kedatangan tim relawan di lokasi bencana disambut hangat oleh Kepala Desa (Wawu Lao) Mala beserta warga setempat yang tengah berjuang memulihkan wilayah mereka.

Rhama menegaskan bahwa aksi kemanusiaan seperti ini merupakan wujud konkret dari penjelmaan Tri Panji GMKI dalam Tri Medan Pelayanan, yaitu Gereja, Masyarakat, dan Perguruan Tinggi.

​”Aksi kemanusiaan ini harus terus dilakukan. Sebagai kader GMKI, kita harus mampu menghadirkan dampak nyata di tengah Gereja, Masyarakat, dan Perguruan Tinggi,” tegasnya.

Ia juga mengutip pepatah yang kerap dikaitkan dengan sastrawan Leo Tolstoy untuk menggambarkan pentingnya rasa empati di tengah kemanusiaan.

​”Jika kamu merasakan sakit, maka kamu hidup. Jika kamu merasakan sakitnya orang lain, maka kamu manusia,” tuturnya.

​Melihat kondisi di lapangan pasca-kebakaran, Rhama mendorong agar perhatian penanganan Karhutla di Kepulauan Sangihe terus diperkuat, baik oleh pemerintah daerah maupun pusat.
​”Masyarakat Sangihe masih membutuhkan perhatian dan dukungan. Hingga saat ini, warga masih bahu-membahu memadamkan sisa api.

Sangihe juga Indonesia, Sangihe juga bagian dari Sulawesi Utara. Kepedulian terhadap Sangihe merupakan tanggung jawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan kita semua,” tambah Rhama.

​Bagi para mahasiswa Kampus Ungu dan kader GMKI, keterlibatan langsung di medan bencana ini merupakan panggilan pengabdian yang berlandaskan iman.

Seluruh rangkaian aksi ditutup dengan komitmen untuk terus melayani sesuai semboyan gerak mereka: Berakar dalam iman, bertumbuhan dalam ilmu, dan berbuah dalam pengabdian.(vil)