SiteSulut.com- Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) tahun 2026 berlangsung sengit.

Dinas Pendidikan Daerah (Dikda) Sulut mencatat sejumlah sekolah favorit diserbu pendaftar hingga melebihi kuota daya tampung yang disediakan.

Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat lintas komisi DPRD Sulawesi, bersama Dinas Pendidikan Sulawesi Utara, Senin (22/6/2026).

​Berdasarkan data resmi Dikda Sulut per 21 Juni 2026 pukul 20:00 WITA, terdapat enam SMA Negeri yang mencatatkan lonjakan pendaftar paling signifikan. Sekolah-sekolah ini tersebar di beberapa wilayah mulai dari Manado, Bitung, hingga Kotamobagu.

Di posisi puncak, SMA Negeri 9 Manado menjadi sekolah yang paling banyak diburu. Sekolah ini menyediakan total kuota sebanyak 602 kursi, namun jumlah calon siswa yang mendaftar sudah menembus angka 797 orang.

​Menyusul di posisi kedua, SMA Negeri 1 Manado juga mengalami kelebihan muatan. Dengan daya tampung sebanyak 566 kursi, jumlah pendaftar yang masuk tercatat mencapai 741 orang.

​Tidak hanya di ibu kota provinsi, persaingan ketat juga terjadi di Kota Bitung dan Kotamobagu. SMA Negeri 2 Bitung dan SMA Negeri 1 Bitung yang sama-sama menyediakan kuota 468 kursi, masing-masing diserbu oleh 616 dan 608 pendaftar.

Sementara itu di Kotamobagu, SMA Negeri 2 Kotamobagu mencatat lonjakan yang cukup tajam dengan 606 pendaftar dari kuota yang hanya tersedia untuk 396 siswa. Diikuti oleh SMA Negeri 3 Kotamobagu yang menerima 430 pendaftar dari kuota 360 kursi.

Kepala Dinas Pendidikan Daerah Sulawesi Utara, Femmy Suluh, mengatakan bahwa jumlah pendaftar masih bisa bertambah karena Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) dibuka sampai 24 Juni. Kendati demikian, ia mengimbau agar siswa yang tidak terakomodir tidak berkecil hati.

“Untuk pendaftar yang tidak terakomodir bisa diterima di sekolah lain yang masih punya kuota,” ujar Femmy.

Senada dengan hal itu, Kepala SMAN 9 Manado, Hendra Massie, mengakui adanya lonjakan pendaftar di sekolah yang dipimpinnya karena sistem pendaftaran yang transparan.

“Karena ini kan sifatnya terbuka online system. Kita menunggu pengumuman pada 26 Juni nanti,” kata Hendra. Ia juga menyarankan siswa yang tidak lolos seleksi untuk segera mendaftar ke sekolah alternatif lain.

​Di sisi lain, membludaknya pendaftar ini memicu perhatian serius dari legislatif. Ketua Komisi IV DPRD Sulut, Vonny J Paat, menegaskan bahwa pihaknya ingin memastikan proses SPMB berjalan sesuai regulasi yang berlaku.


​Vonny menyoroti persoalan klasik yang kerap berulang setiap tahun, terutama mengenai jalur zonasi atau domisili.

“Ada yang rumahnya dekat sekolah tapi tidak diterima. Sebaliknya, yang agak jauh justru diterima,” sentil srikandi PDIP ini.

​Selain masalah zonasi, Komisi IV juga mengkritik ketimpangan rasio siswa baru yang didominasi oleh jalur prestasi. Menurut Vonny, jalur domisili seharusnya mendapatkan porsi yang lebih ideal.

“Idealnya, jalur domisili yang diprioritaskan karena menyangkut dengan kebutuhan orangtua dan siswa itu sendiri,” pungkasnya.(vil)