SiteSulut.com-Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja Christiany Eugenia Paruntu (CEP) dalam menakhodai DPD 1 Golkar Sulawesi Utara.
Bahlil menilai, di bawah komando perempuan yang akrab disapa Tetty Paruntu itu, Golkar Sulut menunjukkan progres signifikan.
Apresiasi tersebut disampaikan Bahlil saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Utara, di GKIC Novotel Manado, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Bahlil, Tetty Paruntu berhasil mengangkat performa partai.
Keberhasilannya terlihat jelas dari lonjakan posisi Golkar di Bumi Nyiur Melambai.
Dari yang sebelumnya berada di urutan ketiga, kini Golkar sukses merangkak naik ke posisi kedua.
“Iya kan Ibu Tetty, dan saya pikir Ibu Tetty sudah berhasil. Berhasilnya kenapa? Dari nomor 3 menjadi nomor 2. Dari 15 Kabupaten/Kota, 11 sudah ada (pimpinan DPRD),” ujar Bahlil di hadapan para kader.
Lanjut Bahlil, bahkan jika Ibu Tetty menyelesaikan semua target 100 persen, maka pemimpin selanjutnya tidak akan punya pekerjaan lagi.
”Berarti dikasih tugas ke pemimpin baru harus tambah empat (daerah) lagi untuk penuhi. Kalau semuanya Ibu Tetty penuhi, pemimpin selanjutnya harus kerja apa?” tambahnya.
Meski memuji capaian periode sebelumnya, Bahlil menitipkan mandat berat bagi sosok yang akan menakhodai Golkar Sulut ke depan.
Target utamanya adalah memastikan Golkar menduduki kursi pimpinan DPRD di seluruh wilayah Sulawesi Utara.
Ia memaparkan bahwa saat ini Golkar sudah berhasil menempatkan kadernya di unsur pimpinan DPRD pada 11 dari 15 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Utara.
“Kalau semuanya Ibu Tetty penuhi (15 kabupaten/kota), pemimpin selanjutnya harus kerja apa? Berarti tugas pemimpin baru tinggal memenuhi sisa empat daerah lagi,” tuturnya.
Ditambahkannya, menjelang pemilihan ketua yang baru, Bahlil menitipkan pesan agar semangat “bertanding untuk bersanding” benar-benar dijalankan.
Ia menegaskan tidak boleh ada perpecahan setelah Musda usai.
“Siapa pun yang terpilih harus merangkul pihak yang kalah. Jangan ada lagi pengkotak-kotakan atau kubu-kubu di internal,”tegasnya.
Dalam pidatonya, Bahlil juga menyentil fenomena kader yang suka saling menjatuhkan.
Ia menggunakan analogi permainan tradisional untuk mengingatkan para kader di Bumi Nyiur Melambai.
“Jangan pakai teori panjat pinang; satu naik, habis itu kasih turun. Itu kelakuan di kampung saya, mudah-mudahan di Sulut tidak seperti itu,” tegas Bahlil yang juga Menteri ESDM RI.
Ia juga mengingatkan agar pengurus menghormati wewenang ketua terpilih. Ia menegaskan bahwa dalam organisasi, komando tertinggi harus jelas dan tunggal sesuai aturan partai.
“Sama dengan saya, Ketua Umum itu hanya satu, tidak boleh ada ketua-ketua yang lain. Itu perintah konstitusi. Tanpa ada dasar tambahan, kita selesaikan lewat mekanisme dan aturan yang ada,” pungkasnya.(vil)

Tinggalkan Balasan