SiteSulut.com — Jaringan kabel serat optik bawah laut Palapa Ring Tengah segmen Melonguane-Morotai mengalami kerusakan parah akibat guncangan gempa bumi tektonik.
Akibat insiden ini, layanan internet di tiga wilayah kepulauan Sitaro, Sangihe, dan Talaud dipastikan bakal mengalami gangguan sementara selama masa perbaikan.
Hal tersebut disampaikan oleh Plt Direktur Layanan TI Masyarakat dan Pemerintah BAKTI, Sudarmanto, saat membacakan kesimpulan Sosialisasi dan Koordinasi Perbaikan Palapa Ring Tengah, di Swissbell Hotel Manado, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh tiga bupati dari wilayah Kepulauan Nusa Utara beserta para pemangku kepentingan terkait.
Sudarmanto menjelaskan, dari total 24 core kabel laut yang ada, sebanyak 2 core tercatat putus total dan 14 core mengalami high bending. Kondisi jaringan kian memburuk setelah kawasan tersebut diguncang gempa bermagnitudo 7,7.
”Proses perbaikan menyeluruh dijadwalkan berlangsung mulai 8 Juli hingga 16 Agustus 2026. Sementara untuk operasi restorasi utama dilaksanakan pada 31 Juli hingga 11 Agustus 2026,” ujar Sudarmanto.
Ia menambahkan, pada masa restorasi utama tersebut akan terjadi pemutusan layanan sementara (outage) selama kurang lebih 10 hingga 12 hari di Kabupaten Sitaro, Sangihe, dan Talaud.
Guna mengantisipasi kelumpuhan akses informasi selama jaringan utama diperbaiki, BAKTI menyiapkan langkah mitigasi dengan mendongkrak kapasitas bandwidth sebesar 50 hingga 200 Mbps pada 286 titik layanan akses internet.
Titik-titik prioritas tersebut tersebar di area vital, seperti kantor pemerintahan, fasilitas kesehatan, sekolah, hingga sektor pertahanan dan keamanan.
Rincian sebaran lokasi terdampak yang mendapat penguatan layanan meliputi:
• Kabupaten Kepulauan Sitaro: 48 titik lokasi.
• Kabupaten Kepulauan Sangihe: 106 titik lokasi.
• Kabupaten Kepulauan Talaud: 132 titik lokasi (termasuk titik wisata, pusat kegiatan masyarakat, dan tempat ibadah).
Tak hanya itu, BAKTI juga menggandeng sejumlah penyedia jasa telekomunikasi untuk memasok pasokan cadangan (backup) bandwidth. Di antaranya pasokan dari Telkomsel sebesar 7,55 Gbps, Telkom via Starlink sebesar 700 Mbps, serta Lintasarta sebesar 100 Mbps.
Langkah darurat ini diharapkan dapat menopang kebutuhan komunikasi mendasar masyarakat dan pelayanan publik di wilayah perbatasan selama proses pemulihan infrastruktur berlangsung.(vil)

Tinggalkan Balasan