SiteSulut.com, Manado – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran Direksi PT Meares Soputan Mining (MSM), Selasa (3/11/2026).
Rapat dipimpin oleh Ketua DPRD Sulut, Fransiskus Silangen didampingi Ketua Komisi III, Berty Kapojos, anggota Toni Supit, Roy Roring dan Haslinda Rotinsulu.
Pertemuan ini menindaklanjuti aspirasi masyarakat lingkar tambang terkait permasalahan Dam Penampungan Air yang dinilai berpotensi mengancam keselamatan warga, kelestarian lingkungan hidup, serta sumber penghidupan di sekitar wilayah operasional tambang.
Dalam rapat tersebut, Anggota Komisi III DPRD Sulut, Toni Supit, memberikan sejumlah catatan kepada pihak perusahaan.
Ia menyoroti pentingnya menjaga iklim investasi jangka panjang yang sehat bagi pendapatan negara dan penyerapan tenaga kerja, namun di sisi lain ia juga mendesak agar hak-hak serta kesejahteraan masyarakat lingkar tambang benar-benar diperhatikan secara transparan dan adil.
Mantan Bupati Sitaro dua periode ini Toni mengingatkan manajemen PT MSM agar berkaca dari pengalaman pahit perusahaan tambang masa lalu di mana masalah kecil yang diabaikan bisa membesar bagaikan bola salju hingga berujung pada penutupan operasional.
“Dari perusahaan besar yang disampaikan Pak Roy, saya melihat dari dampak ekonominya aja. Sebenarnya apa keinginan? Ini yang pertama: CSR atau apa? Atau bagian apa yang diinginkan? Karena Newmont itu seperti bola salju, dari kecil-kecil akhirnya jadi besar, akhirnya tutup. Nah, ini kita melihat supaya investasi jangka panjang, investasi MSM ini bagus untuk pajak pendapatan negara dan penciptaan lapangan pekerjaan,” ujar Toni Supit.
Ia juga menyoroti realisasi program Corporate Social Responsibility (CSR) serta fasilitas umum dan khusus yang selama ini telah dibangun oleh pihak perusahaan.
Menurutnya, meskipun perusahaan telah menyalurkan berbagai bantuan, aspirasi warga yang menginginkan tambahan dukungan perlu diakomodasi melalui solusi yang adil, terutama di tengah situasi ekonomi yang
penuh tantangan.
“Tetapi kalau saya melihat muka-muka ini, dari bapak-bapak yang terhormat, kira-kira mereka dapat apa, gitu? Itu aja yang saya melihat, Nah, sehingga tadi sudah dijelaskan oleh Ibu Dona, tentu pembagian CSR ini bukan berdasarkan keinginan semua, tetapi kebutuhan, ya, dan ini dilaporkan secara jelas,” tambahnya.
Lebih lanjut, Toni mengingatkan pentingnya aspek teknis pengelolaan lingkungan seperti sistem pembuangan air, pengelolaan limbah, hingga keamanan aktivitas blasting (peledakan) agar tidak berdampak buruk bagi warga sekitar.
Ia berharap pihak perusahaan dan masyarakat dapat duduk bersama mencari jalan keluar terbaik demi kelangsungan investasi sekaligus kesejahteraan warga sekitar tambang.
“Karena kita melihat dari 2025, 2026, ekonomi kita ini tidak sedang baik-baik saja. Apalagi prediksi tahun 2027, lebih parah lagi. Jadi ya ada sesuatu yang ingin masyarakat dapatkan dari investasi yang besar ini. Saya rasa itu, tambahan dari saya,” tutupnya.(vil)

Tinggalkan Balasan