SiteSulut.com Wajah pendidikan di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) kini tengah bersiap menghadapi perombakan besar-besaran.

Semangat perubahan ini kembali menyala dalam Forum Group Discussion (FGD) Tindak Lanjut Seminar Misi Pendidikan GMIM yang digelar di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Utara, Pineleng Dua, Sabtu (13/6/2026).

​Di balik ramainya diskusi yang dihadiri ratusan pemangku kepentingan tersebut, sosok Pnt. Febry H.J. Dien, S.T., M.Inf.Tech(Man) menjadi magnet perhatian.

Menjabat sebagai Kepala BPMP Provinsi Sulawesi Utara di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Febry tidak hanya tampil sebagai pembicara, tetapi juga menjadi motor penggerak sekaligus fasilitator utama yang mengawal jalannya transformasi ini.

​Melihat tingginya antusiasme peserta pada seminar sebelumnya di Minsel yang belum sempat menyalurkan ide, Febry dengan sigap berinisiatif memfasilitasi FGD lanjutan ini.

Langkah taktis ini diambil demi memastikan seluruh aspirasi terakomodasi dan bermuara pada dokumen Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang nyata.

​Sebagai seorang birokrat yang paham betul seluk-beluk mutu pendidikan, Febry Dien yang juga tokoh pendidikan Sulawesi Utara menegaskan bahwa sekolah-sekolah GMIM tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara lama. Dalam pemaparan materinya, ia melontarkan gagasan krusial berupa pembentukan Tim Transformasi Pendidikan GMIM.

“Ini harus menjadi tonggak awal bangkitnya kembali pendidikan GMIM. Langkah besar ini tidak bisa dilakukan secara parsial atau jalan sendiri-sendiri. Harus ada komitmen bersama yang melibatkan pimpinan GMIM, institusi, warga gereja, praktisi, hingga kolaborasi intim dengan pemerintah dan sektor swasta,” tegas Febry di hadapan peserta.

​Bagi Febry, Tim Transformasi ini nantinya akan menjadi arsitek utama yang merancang cetak biru (blueprint) masa depan sekolah-sekolah Kristen di bawah naungan GMIM agar kembali kompetitif dan disegani.

Dalam analisisnya, Febry yang juga tokoh pendidikan Sulawesi Utara memetakan sedikitnya ada tiga area vital yang kondisinya sudah sangat mendesak untuk dibenahi. Tiga hal ini dinilainya sebagai kunci utama jika GMIM ingin sekolah-sekolahnya kembali dilirik oleh masyarakat luas:
1. ​Peningkatan Kapasitas SDM: Menggandjot kualitas kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan agar memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan zaman.
2. ​Revitalisasi Sarana dan Prasarana: Mengatasi ketertinggalan fisik sekolah. Febry menyoroti banyaknya fasilitas sekolah GMIM yang saat ini kekurangan dan tertinggal jauh dari sekolah lain.
3. ​Perbaikan Tata Kelola Sistem: Merombak manajemen pengarsipan, struktur pengawasan, dan sistem birokrasi pendidikan di internal GMIM agar lebih lincah merespons dinamika zaman.

“Sarana prasarana kita banyak yang tertinggal, SDM perlu di-upgrade, dan yang paling krusial adalah tata kelola. Kita butuh sistem yang transparan, akuntabel, dan adaptif terhadap regulasi pendidikan nasional saat ini. Tiga pilar ini adalah harga mati yang harus kita benahi bersama,” urai Febry mengenai kondisi riil di lapangan.


​Diskusi yang dipantik oleh Febry Dien ini berkembang menjadi sangat dinamis. Berbagai persoalan pelik di lapangan, mulai dari krisis guru akibat aturan penempatan ASN, isu lahan sekolah, hingga kesejahteraan guru non-ASN—dikupas tuntas bersama panelis lainnya seperti Prof. Jeffrey Lengkong, Dr. Lucky Tumbelaka, Dr. Yoppy Pangemanan, dan Dr. Fietber Raco.

​Tak ingin forum ini berakhir sebagai ajang “baku curhat” semata, Febry memastikan seluruh poin penting dirangkum menjadi dokumen rekomendasi strategis yang kokoh.

Rekomendasi inilah yang nantinya akan diserahkan langsung kepada Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GMIM agar dilegalkan ke dalam AD/ART atau Tata Gereja.

​Lewat tangan dingin dan komitmen kuat Febry Dien dalam memfasilitasi ruang dialog ini, secercah harapan baru kini lahir.

Momentum di Pineleng ini diyakini akan menjadi awal dari sejarah baru bangkitnya sekolah-sekolah GMIM yang unggul, berkarakter, dan siap melahirkan generasi emas di masa depan.(vil)