SiteSulut.com-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) kembali menggelar ibadah rutin bersama di ruang rapat Paripurna, Senin (13/7/2026).
Ibadah yang berlangsung khidmat ini diikuti oleh pimpinan dan anggota DPRD, jajaran Sekretariat DPRD, serta Forum Wartawan DPRD (Forward) Sulut.

Ibadah rutin ini dipimpin langsung oleh Pendeta Melky Tamaka, MTh. Dalam khotbahnya yang diambil dari Kitab 1 Tawarikh 29:10-19, Pdt Melky mengingatkan seluruh jalannya amanah jabatan agar dijauhkan dari sifat sombong.
Menurutnya, Kalau tangan kita tetap terbuka, ketika Tuhan ambil, tanganmu tidak akan terluka.
“Kesombongan Adalah Batu Sandungan Terbesar Orang Sukses,”katanya.
Ia juga menegaskan bahwa dalam pelayanan dan kehidupan, ketulusan hati jauh lebih penting dari pada sekadar formalitas materi.
“Ingat, Tuhan tidak melihat nominal. Ia melihat motivasi. Tuhan menguji hati, bukan menguji dompet,” tegasnya.
Lebih lanjut, Pdt Melky menjelaskan apa yang sebenarnya didoakan oleh Raja Daud di masa hidupnya, yaitu sebuah hati yang lurus dan motivasi yang benar di hadapan Tuhan, bukan sekadar tindakan formalitas.
”Daud mendoakan hati yang lurus. Bukan hanya tindakan benar, tapi motivasi benar. Kerelaan untuk memberi bukan karena paksaan, tapi karena memang cinta kepada Tuhan. Hati yang melekat pada Tuhan, bukan pada hasil tapi pada sumbernya, dan kemampuan membangun agar Salomo dan generasi berikutnya melanjutkan karya Tuhan,” urai Pdt Melky.
Pdt Melky juga mengingatkan bahwa di akhir hidupnya, Daud mengarahkan seluruh pujian hanya kepada Sang Pencipta dan tidak menyombongkan statusnya sebagai penguasa.
“Daud ini jelas mengarahkan semua pujian kepada Tuhan. Dia tidak berkata, ‘Aku raja,’ tapi dia berkata, ‘Lihatlah betapa agungnya Tuhan itu.’ Dan di akhir hidupnya, Daud tidak pernah membawa emas ke kubur. Yang ia bawa adalah apa? Hubungannya dengan Tuhan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DPRD Sulut, Fransiskus Silangen, memberikan kesaksian dan refleksi mendalam mengenai kisah Raja Daud.
Ia menyebut Daud sebagai sosok luar biasa yang meskipun kerap jatuh dalam dosa, selalu memiliki hati yang hancur dan mau bertobat saat ditegur oleh Nabi Natan.
”Daud sadar bahwa apa yang dia alami dalam hidupnya itu cuma karena ada anugerah Tuhan. Ketika ditegur, dia merendahkan diri dan memperbaiki hidupnya,” ungkap Fransiskus.
Di akhir kesaksiannya, Fransiskus Silangen mengajak seluruh jajaran DPRD Sulut untuk meletakkan Tuhan sebagai yang utama.
”Waktu kita tahu Tuhan adalah segala-galanya dalam hidup ini, maka kita harus meletakkan Prioritas utama pada Tuhan Yesus. Setelah itu, harus ada Kualitas dalam mencari Tuhan, bukan cuma sambil lalu. Dan yang terakhir adalah Konsisten atau berkesinambungan,” tutupnya.(vil)

Tinggalkan Balasan