SiteSulut.com – Kepala SMP Negeri 1 Manado, Rahman Manggopa, S.Pd., M.Pd, secara konsisten menerapkan tradisi menyapa siswa di pintu gerbang sekolah setiap pagi.

Kebiasaan yang telah ia jalankan sejak bertugas di SMPN 4 Manado dan SMPN 8 Manado ini bukan sekadar ritual formalitas, melainkan langkah konkret dalam menanamkan nilai budi pekerti, keadaban, serta kedisiplinan kepada para peserta didik.

​Rahman menjelaskan bahwa, menyambut siswa dengan senyuman hangat dan sapaan ramah menjadi pintu masuk untuk membangun karakter serta kesiapan mental anak sebelum memulai kegiatan belajar-mengajar.

​”Tujuan utama menyapa siswa setiap pagi adalah menanamkan sikap budi pekerti, perilaku baik, berakhlak, serta sopan santun. Dari situ tumbuh rasa saling menghormati. Lewat momen itu juga saya memantau langsung kesiapan siswa, mulai dari kerapian seragam hingga kelengkapan atribut sekolah,” ujar Rahman, Senin (7/9/2026).

​Selain memberikan senyuman, Rahman memanfaatkan momen pagi untuk mengapresiasi siswa yang datang tepat waktu.

Mengingat apel pagi dimulai pukul 06.30 WITA dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung pukul 07.00 WITA, ketepatan waktu menjadi tolak ukur awal pembentukan kedisiplinan.

Di samping pendekatan persuasif, Lanjut Rahman, pihak sekolah juga menerapkan pengawasan ketat terhadap keamanan lingkungan belajar.

Pihak sekolah rutin menggelar inspeksi mendadak (sidak) tas siswa bersama wali kelas dan pembina OSIS.

“Sidak ini dilakukan untuk mencegah masuknya barang berbahaya, seperti senjata tajam atau benda lain yang tidak berkaitan dengan proses pembelajaran. Barang terlarang yang ditemukan akan langsung disita secara permanen sesuai dengan aturan yang telah disepakati bersama orang tua murid,”ungkap Manggopa yang dikenal smart dan disiplin.

​Menurut Rahman, penegakan aturan dan kedisiplinan merupakan fondasi utama agar proses pembelajaran berjalan efektif.

“Ketika karakter dan akhlak siswa sudah terbentuk dengan baik, materi pelajaran yang disampaikan oleh para guru akan lebih mudah diserap dan dipahami,”imbuhnya.

Meski demikian, Rahman menegaskan bahwa keberhasilan pembentukan karakter anak tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada lembaga pendidikan. Pondasi utama moralitas dan perilaku anak tetap berakar dari lingkungan keluarga.

“Sekolah tidak bisa berbuat maksimal jika pembentukan karakter diserahkan 100 persen ke sekolah, begitu juga sebaliknya. Fondasi dasarnya ada di rumah, lalu guru melanjutkan dan memperkuatnya di sekolah. Harus ada kolaborasi dan kerja sama yang saling mengisi antara orang tua dan pihak sekolah demi masa depan anak-anak kita,” pungkas Rahman.(vil)