SiteSulut.com — Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulut.
Rapat ini fokus membahas proyeksi anggaran dinas serta mencari solusi konkret atas masalah krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah.
Rapat penting ini dipimpin langsung oleh Ketua Komisi III DPRD Sulut, Berty Kapojos. Turut mendampingi sejumlah anggota komisi, di antaranya Nick Lomban, Yongkie Limen, Roy Roring, Amir Liputo, Capt Remly Kandoli, Haslinda Rotinsulu, dan Tonny Supit.
Pada bagian awal rapat, Komisi III menyoroti kecukupan algaran Dinas ESDM agar program kerja ke depan dapat berjalan memadai.
Berty Kapojos selaku pimpinan rapat meminta pihak dinas melakukan perhitungan matang terkait rencana penganggaran ke depan agar bisa disampaikan secara formal.
”Nanti tolong diperhitungkan agar disampaikan, supaya memadai dinas mendapatkan anggaran,” ujar Berty.
Ia juga mengingatkan agar pihak dinas segera memberikan laporan jika proyek pengeboran yang sedang berjalan di wilayah Sonder telah rampung, sehingga dewan bisa langsung meninjau ke lapangan.
Pembahasan menghangat saat anggota Komisi III, Amir Liputo, menginterupsi dan membawa aspirasi warga terkait krisis air bersih di Desa Kolongan Atas, Kecamatan Sonder.
Menurutnya, ironis jika wilayah Sonder yang dikenal subur justru mengalami kesulitan air bersih di beberapa titik.
Amir menekankan bahwa solusi di wilayah tersebut bukanlah melakukan pengeboran air baru, melainkan perbaikan infrastruktur jaringan distribusi.
“Kalau dia susah air begitu, musuhnya bukan bor air. Harus ada jaringan air di atas itu. Buat bak air,” tegas Amir Liputo.
Ia meminta Dinas ESDM memberikan umpan balik yang jelas mengenai kondisi geografis sumber air di sana, agar DPRD dapat berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk merekapitulasi program pembuatan bak air. “Karena air itu penting, Pak. Sumber kehidupan,” tambahnya.
Senada dengan Amir, anggota Komisi III Roy Roringyang juga mantan Bupati Minahasa membenarkan adanya ketimpangan distribusi air di wilayah tersebut.
Berdasarkan pengetahuannya, wilayah Sonder bagian bawah memiliki sumber air yang melimpah, namun wilayah Kolongan Atas memang sangat kesulitan.
”Memang mesti dicek baik-baik. Di Kolongan Atas ini susah sekali air. Di bawah yang memang banyak air. Makanya bersyukur air yang di bawah dipompakan ke atas,” jelas Roy Roring.
Roy memaparkan bahwa PDAM Minahasa sebenarnya sempat melakukan penggantian pipa di jalur tersebut. Ia juga menyebut ada potensi sumber air di kaki Gunung Renkoan yang terletak di atas Kolongan Atas yang bisa dimanfaatkan jika dicek kembali secara teknis.
Menariknya, di tengah diskusi teknis mengenai penggunaan teknologi geolistrik untuk mendeteksi air bawah tanah, muncul usulan alternatif yang cukup unik dari salah satu peserta rapat.
Dewan mengusulkan agar selain menggunakan metode ilmiah, dinas juga bisa memanfaatkan kearifan lokal atau jasa ahli supranatural/tradisional (disebut warga lokal sebagai tampkur atau opa) yang rekam jejaknya terbukti akurat menemukan titik air tersembunyi di wilayah Minahasa Utara.
Komisi III berharap Dinas ESDM Sulut segera menindaklanjuti hasil evaluasi ini, baik dari sisi optimalisasi anggaran maupun penanganan taktis krisis air bersih demi kepentingan hajat hidup orang banyak di Sulawesi Utara.(vil)

Tinggalkan Balasan