foto : Louis Schramm​

SiteSulut.com-Baru-baru ini, publik di Sulawesi Utara dikejutkan dengan temuan dua orang siswa di Kota Manado yang diduga terpapar paham radikal dan kekerasan yang berkaitan dengan komunitas True Crime Community (TCC) atau sering dikaitkan dengan ideologi Neo-Nazi.

Beruntung, aparat Densus 88 Antiteror Polri bertindak cepat dengan mengidentifikasi dan mencegah. 

​Secara sederhana, kelompok ini biasanya mengagumi pelaku kejahatan sadis atau kekerasan ekstrem.

Mereka sering berkomunikasi melalui media sosial dan menyebarkan kebencian terhadap kelompok tertentu.

Hal ini sangat berbahaya karena bisa memicu perilaku kriminal di dunia nyata.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sulawesi Utara (Sulut), Louis Schramm, angkat bicara dan meminta adanya langkah serius dari seluruh pihak terkait.

Louis menyatakan keprihatinan mendalam atas kasus ini.

Menurutnya, keterlibatan pelajar dalam jaringan radikalisme merupakan sinyal bahaya bagi masa depan generasi muda di Bumi Nyiur Melambai.

​Louis yang juga Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Sulut mengatakan, pengawasan dari pihak sekolah sangat penting dilakukan. Pihak sekolah diminta tidak hanya fokus pada nilai akademik, tapi juga memperhatikan perubahan perilaku siswa yang mulai menyendiri atau menunjukkan minat pada kekerasan.

“Harus ada deteksi dini dari sekolah. Guru diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa, terutama mereka yang mulai menutup diri atau menunjukkan pemikiran ekstrem,”ucapnya.

Dikatakannya, ini adalah alarm keras bagi kita semua. Sekolah seharusnya menjadi tempat menyemai nilai toleransi, bukan justru menjadi celah masuknya paham radikal.

“Kami di Komisi IV akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk mengevaluasi pola pembinaan karakter di sekolah,”tuturnya.

Lanjutnya, selain peran orang tua adalah kunci utama.

“Saya meminta orang tua untuk tidak “lepas tangan”. Orang tua harus lebih rajin mengecek aktivitas anak di media sosial dan siapa teman bicara mereka di dunia maya,”imbuhnya.

Menurutnya, butuh pengawasan ekstra ketat dari orangtua agar anak-anak kita terhindar dari paham radikal dan kekerasan.

“Jangan sampai mereka terpapar paham yang merusak nasionalisme dan kemanusiaan kita hanya karena kurangnya perhatian di rumah,”imbuhnya.

Schramm juga menekankan juga tindakan pencegahan dimana Pemerintah dan aparat keamanan harus bekerja sama untuk memutus rantai penyebaran paham ini sebelum memakan korban.

“Saya curiga juga ini bukan hanya dua orang bahkan lebih, ini harus lebih diantisipasi dan waspada. Kita tidak boleh membiarkan paham kebencian ini merusak masa depan anak-anak kita di Sulut. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan hanya polisi,” ujar Louis Schramm.

Ia menambahkan, kita juga harus perhatikan jika anak sering mengakses situs atau grup obrolan yang membahas pemujaan terhadap penjahat. Ajak mereka untuk berdialog dan berikan pemahaman bahwa kekerasan bukan hal yang keren untuk ditiru.

“Lapor jika ada mencurigakan melihat perubahan perilaku yang drastis, segera konsultasi dengan pihak sekolah,”pungkasnya, sambil menambahkan bahwa dirinya berkomitmen untuk terus mengawal isu ini guna memastikan stabilitas keamanan dan kondusivitas di wilayah Sulawesi Utara tetap terjaga.(vil)