Febry Dien : Fungsi Guru BK Jangan Sekadar “Pajangan”

SiteSulut.com-Provinisi Sulawesi Utara kini tengah menghadapi tantangan serius terkait stabilitas moral dan keamanan di lingkungan remaja.

Rentetan kasus, mulai dari aksi perundungan (bullying), hingga masuknya paham kekerasan ke lingkungan sekolah kian marak terjadi, memicu kekhawatiran mendalam dari berbagai kalangan.

Fenomena ini menjadi perhatian khusus karena para korban maupun pelaku didominasi oleh kelompok usia sekolah.

Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan hal ini akan menjadi “bom waktu” bagi masa depan generasi muda di Sulawesi Utara.

​Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Kepala Badan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Utara, Febry H.J. Dien, S.T., M.Inf.Tech(Man) angkat bicara.

Ia menegaskan bahwa pihaknya kini mengemban tugas khusus untuk memastikan bimbingan konseling (BK) di sekolah berjalan secara nyata dan implementatif.

Febry menyoroti kondisi di lapangan di mana peran guru BK seringkali belum maksimal dalam melakukan pencegahan dini.

“Kami melihat ada beberapa indikasi kejadian yang melibatkan pelajar, mulai dari bullying hingga paham radikal yang masuk ke beberapa sekolah. Hal ini menjadi perhatian serius kami. Kami mendapat tugas agar bimbingan konseling dilakukan secara nyata, karena selama ini guru BK di sekolah seolah hanya sekadar pajangan,” kata  Febry.

Menurutnya, berbagai pelatihan telah dilakukan oleh kementerian maupun institusi terkait. Namun, tugas penting BPMP saat ini adalah memastikan hasil pelatihan tersebut benar-benar diterapkan untuk mencegah terjadinya kasus di lingkungan pendidikan.

Ia menekankan bahwa aturan yang baik tidak akan berdampak tanpa eksekusi yang konsisten di tingkat satuan pendidikan.

“Saat ini Pak Menteri telah mengeluarkan surat ederan terkait “Sekolah Aman”. Nantinya kami dari BPMP akan melakukan pendampingan khusus dan akan turun langsung ke satuan pendidikan untuk memastikan sekolah menjadi ruang yang terlindungi,”ujarnya.

Dikatakannya, BPMP Sulut berencana mengundang berbagai pihak, termasuk insan pers, untuk membahas langkah-langkah preventif yang lebih konkret.

“Langkah ini diambil agar pengawasan terhadap moralitas dan keamanan pelajar tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga menjadi kesadaran publik secara luas,”ungkapnya.

Lanjut Dien, pentingnya sinergi dengan Orangtua untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Menurutnya, meski sekolah telah melakukan pengawasan ketat, bahwa upaya tersebut tidak akan maksimal tanpa dukungan penuh dari lingkungan keluarga.

“Selain peran sekolah, keterlibatan dan pengawasan khusus dari orang tua adalah fondasi utama dalam mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan,”pungkasnya.(vil)